Kisah Integritas Bung Hatta

Pada tahun 1950, ketika Bung Hatta masih menjadi pejabat Wakil Presiden, Ibu Bung Hatta yang berada di Sumedang berkeinginan menemui Bung Hatta di Jakarta. Hasjim Ning menyampaikan niat Ibunda Bung Hatta tersebut dan merekomendasikan untuk menjemputnya dengan Mobil Dinas Wakil Presiden. Hemat Hasjim Ning ketika itu, tentu dijemput dengan mobil dinas wakil presiden akan membuat Ibunda Bung Hatta yang dipanggil “Mak Tuo” oleh Hasjim tersebut bangga. Ketika itu, Bung Hatta menjawab, “Tidak bisa. Pakai saja mobil Hasjim. Mobil itu bukan kepunyaanku. Mobil itu punya negara”. Begitulah salah satu dari sekian banyak cerita integritas Bung Hatta yang kini barangkali jarang ditemui pada pejabat-pejabat Indonesia. Alih-alih tidak mempergunakan fasilitas negara, pejabat-pejabat banyak menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya sendiri.

Yayasan Hatta pada 2-13 Desember 2024 mengadakan kegiatan Tur Jejak Langkah Bung Hatta di 3 (tiga) sekolah. Tur Jejak Langkah Bung Hatta berbentuk pameran tematik, talkshow dan penyerahan hibah Sudut Hatta. Pameran berisi koleksi-koleksi sejarah Bung Hatta yang selama ini masih jarang ditampilkan atau dibicarakan di Publik, berikut dengan komik yang mendukung cerita pada pameran tersebut. Sudut Hatta adalah koleksi buku-buku yang berkaitan dengan tokoh dan peran Hatta bagi republik ini.

Feedback dari Peserta

Dalam tur Jejak Langkah Bung Hatta, Yayasan Hatta juga menyelenggarakan talkshow bagi murid-murid SMA dan staff akademik hingga warga sekitar sekolah. Pada tiga sekolah tersebut, setidaknya ada hampir 8.0000 (delapan ribu) orang yang menyaksikan pameran. Istimewanya, SMA Negeri 9 Jakarta mengundang komunitas dan sekolah lain yang berada di sekitar Komplek Bandara Halim Perdanakusuma untuk berkunjung ke Pameran Jejak Langkah Bung Hatta. Total, sekitar 4980 orang di SMA Swasta Pahoa, 2000 Orang di SMA Negeri 9 Jakarta dan sekolah lain di sekitarnya, dan 700 orang di SMA Negeri 33 Jakarta.

Lebih lanjut, dari pameran di tiga sekolah tersebut, Yayasan Hatta menerima setidaknya 704 (Tujuh Ratus Empat) feedback melalui form digital dari para murid, wali murid dan staf akademik sekolah-sekolah tersebut. Dari feedback yang Yayasan Hatta terima, 99 persen menyatakan terinspirasi untuk berjuang bagi Indonesia berkat kegiatan “Jejak Langkah Bung Hatta” dan peran mata uang bagi kedaulatan ekonomi bangsa. Disamping isian form, secara lisan, majelis guru dan murid-murid menyambut Tim Yayasan Hatta dengan hormat dan apresiatif. Pada isian form, Yayasan Hatta menerima banyak sekali apresiasi sekaligus masukan dari murid-murid maupun staf akademik hingga orang tua dari murid. Kebanyakan diantaranya merupakan apresiasi dan permintaan agar pameran bisa diperbesar. Di SMA Negeri 9, ada banyak permintaan dari warga sekitar sekolah yang  meminta pameran sejenis untuk dilangsungkan kembali dengan koleksi yang lebih banyak. Apresiasi dan permintaan ini merupakan pekerjaan rumah yang akan Yayasan Hatta laksanakan di kemudian hari.

Kegiatan ini tidak terlepas dari misi Yayasan Hatta dalam menyebarkan nilai-nilai integritas bagi generasi muda dalam rangka meningkatkan patriotisme. Yayasan Hatta meyakini, sikap-sikap anti korupsi bisa ditanamkan kepada generasi muda agar kedepan pembangunan bangsa Indonesia tidak terperdaya oleh perilaku-perilaku korupsi.

Tur Jejak Langkah Bung Hatta di SMA Negeri Pahoa
Tur Jejak Langkah Bung Hatta di SMA Swasta Pahoa

 

Tur Jejak Langkah Bung Hatta di SMA Negeri 33 Jakarta
Tur Jejak Langkah Bung Hatta di SMA Negeri 9 Jakarta

 

Tur Jejak Langkah Bung Hatta di SMA Negeri 33 Jakarta
Tur Jejak Langkah Bung Hatta di SMA Negeri 33 Jakarta

Kegiatan Tur Jejak Langkah Bung Hatta ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk mempertahankan dan meningkatkan integritasnya di masa kini. Yayasan Hatta berkeyakinan bahwa hanya dengan integritaslah cita-cita Indonesia yang adil dan makmur dapat terwujud