Sambutan Yayasan Hatta di Hari Koperasi Ke-78 Tahun 2025

Hari ini, 12 Juli, diperingati Hari Koperasi Nasional. Sebuah momentum penting yang setiap tahunnya mengingatkan pada semangat gotong royong, kebersamaan, dan cita-cita kemandirian yang pernah Bung Hatta tanamkan sejak masa kemerdekaan. 

Bung Hatta pernah mengatakan, koperasi bukan hanya instrumen ekonomi, melainkan perwujudan kesadaran kebangsaan. Beliau, bahkan sejak masa mudanya di Perhimpunan Indonesia, meyakini perjuangan kemerdekaan politik akan pincang tanpa kemerdekaan di bidang ekonomi. Karenanya, pada 1925, beliau semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) berkeliling ke Skandinavia, belajar bagaimana petani, nelayan, dan warga kota bisa hidup lebih berdaulat melalui koperasi. Pengalaman itu menjelma menjadi pemikiran besar yang beliau bawa pulang ke Indonesia: bahwa kedaulatan bangsa akan terjaga bila rakyatnya sanggup menolong dirinya sendiri secara kolektif. Koperasi Indonesia kemudian diilhami oleh praktik perkoperasian di Skandinavia dengan tinjauan wilayah eropa lain. Karena itu, disusunlah ekonomi Indonesia dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Namun tonggak pentingnya adalah ketika pada 12 Juli 1947 diadakan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya, menegaskan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional Indonesia.

Kita patut jujur bahwa jalan koperasi di Indonesia tidak selamanya mulus. Kita melihat masih banyak koperasi yang hanya tinggal papan nama, sebagian bahkan menyimpang jauh menjadi lintah darat dengan bunga mencekik. Padahal Hatta sudah menegaskan, koperasi lahir untuk melawan praktek lintah darat dan memanusiakan rakyat kecil. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan jumlah koperasi aktif, dari 152 ribuan di 2015 menjadi sekitar 130 ribu di 2024. Ini menjadi cermin betapa nilai gotong royong semakin memudar di tengah arus individualisme.

Kita tidak boleh putus asa. Justru di tengah ketimpangan ekonomi yang makin menganga, rasio gini kita yang kian meruncing, harga komoditas petani yang fluktuatif tanpa perlindungan, kita semakin butuh semangat koperasi sebagai jalan pulang. Koperasi bukan soal nostalgia, tetapi cara kita menjaga agar tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal. Ini soal menjaga agar petani tidak sendirian menghadapi tengkulak, agar nelayan tidak diperdaya pasar, agar rakyat kecil tidak dipaksa berhutang dengan bunga mencekik.

Maka dari itu, Yayasan Hatta mengajak kita semua kembali pada cita-cita ekonomi Indonesia, koperasi sebagai gerakan, bukan sekadar badan usaha. Gerakan yang dibangun di atas pendidikan, kesadaran anggota, dan kepercayaan bersama. Bung Hatta sudah menegaskan, koperasi tidak bisa dipaksakan dari atas. Ia hanya tumbuh dari kesadaran rakyat akan manfaatnya.

Kepada para penggiat koperasi, mari kita perkuat literasi anggota, kawal akuntabilitas pengurus, dan dorong pembaruan kebijakan agar koperasi tidak berjalan sendiri. Kita butuh Undang-Undang Koperasi yang lebih kokoh, agar praktik gotong royong ini tidak sekadar jargon.

Kepada seluruh anak muda, mari kita buktikan bahwa koperasi bukan barang kuno. Koperasi adalah cara kita berdaulat di tengah gempuran modal besar dan pasar bebas.

Yayasan Hatta akan selalu berdiri di barisan terdepan untuk menjaga agar warisan pemikiran Bung Hatta tentang koperasi tetap hidup, terus relevan, dan bisa menjawab tantangan zaman.

Akhir kata, marilah kita jadikan peringatan Hari Koperasi Nasional ini sebagai peneguhan komitmen. Bukan hanya merayakan seremonial, tapi merawat api perjuangan agar semangat gotong royong tidak pernah padam.

 

12 Juli 2025,

 

Yayasan Hatta